dailylutim.id – Warga Desa Balambano, Kecamatan Wasuponda, Luwu Timur, Tidak Bisa Tenang. Jalur Pipa Minyak Milik PT Vale Indonesia Yang Hendak Dialihkan Atau Reroute Melewati Kawasan Dekat Permukiman Mereka.
Protes Pun Muncul. Warga Menolak Pekerjaan Jalur Pipa PT Vale Berlanjut Sebelum Ada Penjelasan Yang Jelas Dan Terbuka.
Komisi III DPRD Luwu Timur Bergerak Cepat. Senin (21/9/2026), Mereka Turun Langsung Meninjau Lokasi Jalur Pipa Tersebut.
DPRD Lutim Tinjau Titik Yang Dikeluhkan Warga
Peninjauan Itu Merupakan Tindak Lanjut Rapat Dengar Pendapat Komisi III DPRD Luwu Timur Beberapa Waktu Sebelumnya.
Dalam Kunjungan Itu, Komisi III Didampingi Manajemen PT Vale Indonesia, Forum Komunikasi Masyarakat Balambano (FKMB), Dan Dinas Lingkungan Hidup Luwu Timur.
Mereka Melihat Langsung Titik-titik Yang Menjadi Perhatian Masyarakat. Terutama Area Yang Berjarak Dekat Dengan Rumah Warga.
Juru Bicara FKMB, Risal Mujur, Meminta PT Vale Melakukan Sosialisasi Terbuka Sebelum Pekerjaan Jalur Pipa Dilaksanakan.
Menurut Risal, Warga Perlu Tahu Persis Di Mana Pipa Akan Dipasang. Apalagi Jalur Itu Melintas Tidak Jauh Dari Kawasan Permukiman.
“Setidaknya PT Vale Melakukan Sosialisasi Terkait Titik Pipa Minyak Kepada Masyarakat Sebelum Melaksanakan Pekerjaan Pipa Minyak,” Kata Risal.
Selain Itu, Risal Mempertanyakan Aspek Lingkungan Dalam Pekerjaan Tersebut. Khususnya Soal Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
Ia Menanyakan Apakah Pekerjaan Reroute Pipa Sudah Memiliki AMDAL Atau Dokumen Lingkungan Yang Dipersyaratkan.
Jika Proses AMDAL Sudah Dilakukan, Ia Mempertanyakan Keterlibatan Warga Balambano Dalam Konsultasi Publik.
Menurut Dia, PT Vale Memang Pernah Menggelar Sosialisasi. Namun Materi Yang Disampaikan Lebih Banyak Soal Gambar Pekerjaan, Bukan Rencana Titik Pemasangan Pipa Di Lapangan.
“Yang Menjadi Objek Sosialisasi Hanya Gambar. Bukan Sosialisasi Perencanaan Titik Pemasangan Pipa,” Ujarnya.
Risal Menyebut Sosialisasi Gambar Titik Rute Pipa Itu Digelar Di Kantor Desa Balambano Dua Tahun Lalu. Warga Bersama Pemerintah Desa Menolaknya Dengan Tegas.
Kepala Dusun Balambano, Habir Wakka, Membenarkan Hal Itu. Ia Dan Warga Lain Menolak Karena Tidak Ada Sosialisasi Perencanaan Titik Letak Pipa.
“Sosialisasi Gambar Titik Rute Pipa Minyak PT Vale Saat Itu Kami Tolak Karena Tidak Ada Sosialisasi Perencanaan Titik Letak Pipa Tersebut Di Area Pemukiman Warga,” Jelasnya.
Komisi III Minta PT Vale Duduk Bersama Warga
Anggota Komisi III DPRD Luwu Timur, Erick Estrada, Meminta PT Vale Segera Mengatur Pertemuan Dengan Warga Balambano Dan Pihak Terkait.
Erick Ingin Komunikasi Dilakukan Melalui Pemerintah Kecamatan. Tujuannya Agar Pertemuan Melibatkan Banyak Warga Dan Menghasilkan Titik Temu Sebelum Pekerjaan Kembali Dilanjutkan.
“Silakan PT Vale Komunikasi Dengan Camat Untuk Melakukan Pertemuan Dengan Masyarakat Balambano Untuk Membahas Masalah Ini,” Jelas Erick.
Sementara Itu, Senior Koordinator Stakeholder Relations PT Vale Indonesia, Iskandar Ismail, Menyatakan Perusahaan Tidak Ingin Menjalankan Proyek Dengan Mengabaikan Aspirasi Warga.
Menurutnya, Aspirasi Masyarakat Harus Didengarkan Agar Pekerjaan Tidak Menimbulkan Persoalan Baru Di Kemudian Hari.
“Tidak Mungkin Kita Melangsungkan Suatu Proyek Tanpa Mendengarkan Aspirasi Dari Masyarakat,” Kata Iskandar.
Ia Menyampaikan PT Vale Akan Menghentikan Sementara Aktivitas Pengerjaan. Perusahaan Juga Menjadwalkan Pertemuan Dengan Warga Balambano Untuk Mencari Kesepakatan.
“Kita Berharap Tidak Ada Gesekan. Selama Itu Dapat Merugikan Masyarakat Dan Perusahaan, Tentunya Langkah Itu Akan Kita Ambil,” Ujarnya.
Di Sisi Lain, Soal Proses Penerbitan AMDAL Dan Keterlibatan Warga Dalam Konsultasi Publik, Iskandar Mengaku Belum Mengetahui Pasti.
Ia Beralasan Baru Menjabat Pada Tahun Ini, Sementara Proses Kegiatan Itu Berlangsung Sekitar Dua Tahun Lalu.
“Kalau Dalam Tata Kelola Prosedur Pengurusan Izin, Konsultasi Publik Harus Kita Tempuh. Saya Tidak Tahu Pendahulu Saya Sebelum Saya Menjabat Itu Dilakukan Atau Tidak,” Katanya.
Iskandar Mengatakan Secara Prosedural Konsultasi Publik Seharusnya Dilakukan. Namun Keterangan Warga Yang Diterimanya Menyebut Proses Itu Tidak Melibatkan Mereka.
“Dan Harusnya Mereka Lakukan Itu. Tapi Dari Kesaksian Teman-teman Masyarakat Itu Tidak Ada. Jadi Ini Perlu Kami Klarifikasi Ke Internal,” Ujar Iskandar.
Protes Warga Balambano Bukan Hanya Soal Lokasi Pemasangan. Mereka Juga Mengkhawatirkan Potensi Kebocoran Pipa.
Warga Menyebut Pernah Terjadi Kebocoran Pipa Di Sejumlah Titik Di Wilayah Operasional PT Vale. Kekhawatiran Itu Makin Kuat Karena Jalur Reroute Berada Relatif Dekat Dengan Permukiman.
Karena Itu, Warga Meminta Aspek Keselamatan, Lingkungan, Keterbukaan Informasi, Dan Keterlibatan Masyarakat Dibahas Tuntas Sebelum Pekerjaan Dilanjutkan.
Bagi Warga Luwu Timur, Persoalan Ini Bukan Sekadar Proyek Perusahaan. Keselamatan Keluarga Di Rumah Sendiri Jadi Taruhannya.